Bagaimana Berbicara Dng Cukup Umur Shg Mau Mendengar
Buku ini sangat baik dibaca oleh setiap orang, khususnya orang bau tanah yang memiliki anak usia remaja. Seringkali terdapat perbedaan persepsi antara keinginan anak dan keinginan orang tua, dan dalam buku ini digambarkan secara terang kiat-kiat menemukan jembatan perbedaan itu.
Awal kisah bermula dari perkumpulan yang digagas oleh seorang psikolog, kurang lebih sepuluh orang bau tanah berkumpul setiap minggu. Mereka memiliki anak cukup umur usia 12-16 tahun. Setiap pertemuan mereka menceritakan kegalauan mereka jawaban ulah para cukup umur itu. Masing-masing cukup umur tentu menyerupai halnya insan lainnya, unik. Namun, ternyata ada persamaan hal-hal yang menjadi dasar untuk sanggup mengenal, mendekati dan memahami mereka. Berikut ialah kuncinya.
Pertama, pahami bahwa menyerupai diri Anda dulu, sebagian cukup umur merasa ini ialah ketika terindah dalam hidup mereka, mereka merasa lebih ‘hidup,’ bebas, punya banyak keinginan dan inilah masa pembuktian diri. Sebagian lainnya justru ingin segera melarikan diri, sebab merasa ini ialah hal tersulit dalam hidup mereka. Persepsi yang salah wacana postur badan ideal dan popularitas telah mengubur kepercayaan diri mereka. Oleh karenanya, apapun yang dirasakan oleh putra-putri Anda ketika ini, berikan mereka dukungan dan bimbingan. Biarkan mereka mengungkapkan perasaannya.
Langkah berikutnya ialah berdamai dengan perasaan yang mereka utarakan. Daripada menangkis dan mengabaikan perasaan mereka, lebih baik identifikasi/ coba mengerti apa yang sebetulnya mereka rasakan. Jangan justru memperlebar jurang bicara dengan berkomentar panjang lebar, cukup dengan ungkapan kecil namun bijak “ooh, mmm.. begitu ya.” Misalkan anak Anda mengalami patah hati pertama kali sebab ‘pacar’nya ternyata ‘playboy.’ Di ketika ia bercerita, jangan mengomentarinya dengan “tuh kan, emang beliau brengsek, dari gayanya aja Mama udah tau kalau beliau nakal, beliau emang ga pantes buat kamu.” Sebaiknya, identifikasi perasaan mereka dengan berkata “Oh itu yang buat kau kelihatan murung akhir-akhir ini, niscaya kau kecewa ya...hmm, seandainya aja Ronny anak baik ya, Mama bersyukur sekali kalau kau punya sahabat menyerupai dia.”
Dengan memahami perasaan mereka dan memberikan khayalan yang berbeda dari kenyataan, ternyata menciptakan cukup umur lebih nyaman mendapatkan keadaan sebetulnya dan menciptakan mereka merasa berhak didengar.
Setelah bisa memahami perasaan mereka, hindari melaksanakan perintah atau bersikap menyalahkan. Misalnya “Jangan makan pizza itu banyak-banyak” atau “Pulang sekolah taro baju yang bener di bejana belakang” atau “Ini baju rusak gara-gara kau yang cuci.” Sebaiknya berikan klarifikasi atau informasi dengan cara yang baik menyerupai “Pizza ini cuma sedikit, sebab kita sekeluarga ber-5, jadi masing-masing hanya kebagian satu dulu ya” atau “Baju ini sayang sekali selesai pakai eksklusif di buang ke lantai, sebab kalau noda-noda minyak dan abu yang ada di lantai nempel, nanti susah hilangnya. Memang mau pakai baju yang ada corak coklatnya...?” atau “Lena sayang, lain kali sebelum basuh baju lihat dulu ya petunjuknya, biasanya ada di potongan dalam baju. Nah lihat kan, baju ini hanya boleh dicuci pakai tangan, kalau pakai mesin basuh jadi mengkerut.” Ungkapkan juga keinginan Anda menyerupai “Mama makasih banget kau mau bantu, mudah-mudahan kau semakin menjadi anak yang bertanggung jawab, siapa tahu nanti kuliah jadi anak kos, yang segalanya harus mandiri.” Dengan begitu, cukup umur merasa bahwa dirinya bisa ‘berbuat sesuatu,’ bukan hanya ‘makhluk’ yang diperintah.
Memahami perasaan sudah, menghindari kata perintah ataupun menyalahkan sudah. Apalagi? Selanjutnya, Anda harus menentukan sikap apakah mereka harus dieksekusi atau tidak atas ‘kenakalannya.’ Kenapa? Karena ada sebagian anak yang merasa bahwa sanksi memang menolong mereka untuk kembali ke ‘jalan yang benar,’ namun sebagian lagi justru beropini itu akan menciptakan mereka merasa lemah, terpuruk dalam rasa bersalah yang berkepanjangan sehingga tidak lagi percaya terhadap dirinya sendiri. Celakanya, sebagian lagi justru mencari celah biar tidak lagi ‘ketahuan,’ mereka menjadi pembohong unggul! Hmm, ternyata ada alternatif sanksi lho. Caranya, begitu Anda tahu ada perbuatan mereka yang mengecewakan Anda, beritahu mereka, ungkapkan perasaan Anda, keinginan Anda, beritahu mereka cara memperbaiki kesalahan, berikan tawaran/ pilihan dan lakukan agresi untuk mencegah terulangnya ‘kejadian.’ Misalnya “Papa kecewa sekali, sebab tadi tanpa sengaja menemukan surat peringatan dari guru kau di sekolah. Jadi, kau sudah 3 hari ini bolos. Sebenarnya, Papa sangat berharap kau bahagia berguru di sekolah, Papa dan Mama murung sebab tidak gampang rasanya mengumpulkan uang untuk sekolahmu nak.” Setelah Anda tahu alasan mereka, (ingat jangan mendesak alasannya) perlahan berikan mereka pandangan bagaimana memperbaiki kesalahannya, kemudian tawarkan pilihan seperti, “Besok, Papa temani ya, kita minta maaf sama-sama ke wali kelasmu. Kalau kau bosan sebab Pak gurunya ga terang ngajarnya, kita bisa pilih daerah les yang kau suka, yang bisa buat kau semangat, atau mau bikin kelompok belajar?” Di hari lain, jikalau mereka terlihat tetap jenuh dengan pelajaran tersebut meskipun sudah menentukan caranya sendiri untuk menciptakan kelompok belajar, lakukan agresi dengan perjanjian bahwa mereka harus tetap bertahan hingga menemukan cara yang mereka anggap paling nyaman dalam mempelajari mata latih tersebut. Ketegasan dalam fase ini mutlak diperlukan, tidak ada salahnya menambahkan ‘ancang-ancang hukuman,’ menyerupai “Atau kau mau untuk tidak main dulu sementara sebelum kau ngerti pelajaran itu?” Jelas sekali perbedaannya, bahwa dengan sanksi kita sudah menutup rapat-rapat segala kemungkinan, namun dengan menunjukkan solusi/ perjanjian kita tetap membuka peluang bagi mereka untuk memperbaiki kesalahannya.
Step selanjutnya yakni dengan bekerja bahu-membahu dalam menuntaskan suatu masalah. Biarkan mereka memberikan pandangannya, begitu juga dengan Anda. Lakukan ‘brainstorming’ berdua, tulis dalam sebuah kertas. Jangan pernah mentertawakan apa yang berdasarkan Anda ‘ide bodoh.’ Setelah itu, bahu-membahu cari titik temu, mana yang bisa dilaksanakan. Misalnya anak Anda terlalu larut pulang malam, list wangsit yang mungkin Anda dan putra/i Anda tulis ialah ga boleh keluar malam lagi hingga nikah, jam malam diperpanjang 2 jam, Papa jemput ke daerah program dsb. Mana yang paling mungkin untuk berdua. Misalnya jam malam diperpanjang tetapi hanya 1 jam, dan untuk acara-acara tertentu, menyerupai ulang tahun teman. Kuncinya, saling mendengar, saling bicara dan buat keputusan secara bersama-sama.
Dalam buku ini, langkah-langkah tadi ialah cara bijak yang perlahan-lahan diaplikasikan oleh para orang tua. Tetapi, tentu saja satu arah tidak akan cukup. Untuk itu, sesudah tahapan tadi selesai, para anak dikumpulkan. Mereka diberikan kebebasan untuk memberikan perasaan mereka, wacana apa yang mereka inginkan dan tidak inginkan dalam rumah mereka. Apa yang mereka inginkan dari orang bau tanah mereka dan apa yang mereka harapkan dari kekerabatan anak dan orang tua. Terungkap bahwa mereka ingin dimengerti, mereka tidak ingin di’judge’ harus begini harus begitu kau begini kau begitu. Hubungan pertemanan ialah hal yang paling nyaman yang bisa Anda ciptakan. Bicaralah dengan mereka, menyerupai layaknya sahabat sehati.
Bagian ini merupakan potongan yang cukup penting. Kenali teman-temannya. Ungkapkan pada diri putra/i Anda bahwa “teman ialah seseorang yang dengannya kau bisa menjadi apa adanya dirimu, seseorang yang tidak berusaha untuk merubah kamu.” Jadi, berikan dasar-dasar menyerupai Anda telah berguru langkah-langkah sebelumnya, bagaimana memahami perasaan anak Anda, mengidentifikasi perasaannya dan memberikan khayalan yang berbeda dari kenyataan. Mereka pun harus melaksanakan hal yang sama kepada teman-temannya. Mintalah mereka melaksanakan hal yang sama pula kepada Anda. Tambahkan bahwa sahabat ialah salah satu hal paling berharga di dunia ini, jadi jikalau ingin dicintai mulailah mencintai, sahabat dan juga orang tua
Inti dari pertemuan anak dan orang bau tanah ialah respek, sikap saling menghargai. Ceritakan apa yang Anda rasakan dan inginkan sebagai orang bau tanah dan apa yang mereka rasakan serta inginkan sebagai anak. Hindari perselisihan dan saling menyerang. Jangan lupakan pujian, sebab bisa semakin merekatkan kekerabatan baik Anda dan remaja. Pujilah dengan lapang dada perjuangan yang telah mereka lakukan bukan apa yang berdasarkan Anda kedengaran ‘enak.’ Misalnya, daripada “Putri, kau memang anak yang paling pintar!” atau “Cinta, kau memang paling cantik!” lebih baik “Papa bahagia sekali semester ini kau sanggup rangking 5, Papa lihat kau ngga pernah ngeluh setiap hari berguru dari pagi hingga sore. Papa besar hati atas kerja keras kamu.” Atau “Cinta, Mama bahagia kau kini sudah besar, bisa menentukan baju yang cocok dengan usia kamu, rambutnya juga dirawat setiap hari, kau terlihat cantik.” Pujian yang pertama terdengar manipulatif, apalagi jikalau anak Anda tidak merasa menyerupai yang Anda ucapkan. Sebaliknya, kebanggaan yang kedua ialah ungkapan jujur Anda atas perjuangan mereka, dengan sendirinya mereka akan lebih menghargai diri mereka sendiri.
Terakhir, sesudah kekerabatan baik terbina, Anda boleh mendiskusikan persoalan seks ataupun obat-obat terlarang dengan putra/i Anda. Mulailah dengan pinjaman radio, TV, majalah atau koran. Misalnya, di radio ada info wacana penurunan angka kehamilan cukup umur belum nikah, Anda bisa mulai dengan “wah info bagus nih, kira-kira kenapa ya, berdasarkan kau apa cukup umur kini sudah mulai pakai kondom? Atau... malah banyak yang tidak ingin melaksanakan kekerabatan seks sebelum nikah?” Anak Anda mungkin menjawab “Hm, ga tau deh, mungkin aja sih Pa.” Pembicaraan pun bisa berlanjut. Intinya, jangan tiba-tiba tiba berceramah panjang lebar wacana hal itu ataupun menuduh mereka terlibat dalam pergaulan ‘bebas’. Anda juga perlu memberikan informasi yang terang dan spesifik jikalau mereka bertanya, jangan berikan jawaban yang menggantung atau menerawang sebab justru akan memicu rasa penasarannya. Jangan lupa, Anda ialah model mereka, jikalau tidak ingin mereka menjadi perokok, maka Anda pun jangan merokok.
Kesimpulannya, dengan berupaya bersikap responsif mendengarkan perasaan mereka (remaja), bekerja sama mencari penyelesaian masalah, mendukung mimpi dan keinginan mereka, Anda telah memberikan kepada putra putri Anda betapa setiap hari Anda menghormati, menyayangi dan menghargai mereka. Dan mereka, yang merasa dihargai oleh Anda sebagai orang tuanya, akan lebih gampang untuk menghargai diri mereka sendiri. Mereka akan lebih gampang untuk bertanggung jawab terhadap pilihan mereka dan menghindarkan diri dari sikap yang sanggup menjerumuskan dan menghancurkan masa depan mereka. Itu semua sebab ‘siapapun kita, anak ataupun orang tua, perlu untuk dihargai.
Comments
Post a Comment