Kondom Dan Kesehatan Reproduksi Cukup Umur Di Republik Kongo

 yang terletak di Afrika Tengah memiliki jumlah penduduk lebih kurang  Kondom dan Kesehatan Reproduksi Remaja di Republik KongoRepublik Demokrasi Kongo (RDK) yang terletak di Afrika Tengah memiliki jumlah penduduk lebih kurang 66 juta jiwa memiliki status kesehatan yang cukup memprihatinkan.  Tingkat kematian ibu sebesar 990 kematian per 100.000 kelahiran hidup (diperkirakan 3.000 kematian per 100.000 kelahiran hidup dilaporkan pada wilayah-wilayah konflik). Hal ini menciptakan RDK menjadi salah satu negara dengan status kesehatan yang sangat memprihatinkan.  Ratio fertilitas remaja juga merupakan yang tertinggi di dunia yaitu 220 kelahiran per 1.000 wanita usia 15-19 tahun.  Prevalensi HIV pada orang remaja diestimasi sekitar 4,2% hingga 5,1% dan jumlah estimasi orang dengan HIV yakni berkisar antara 450.000 hingga dengan 2.600.000 orang.


Tahun 2004, World Bank mengidentifikasi enam prioritas utama dalam rekonstruksi dilema sosial di RDK dan seluruhnya secara eksklusif maupun tidak eksklusif berkaitan dengan dilema kesehatan.  Prioritas utama yakni menahan laju penyebaran HIV dan rehabilitasi sektor kesehatan.  Departemen Kesehatan RDK mengidentifikasikan kesehatan reproduksi dan perjuangan pencegahan HIV/AIDS menjadi prioritas utama dalam taktik kesehatan mereka.  Secara khusus agenda nasional kesehatan reproduksi dan agenda pencegahan HIV/AIDS membidik remaja sebagai target.



Sebagai bab dari agenda kerjasama dari Belgian Development Cooperation Programme, dilakukan studi mengenai bagaimana pendekatan hak-hak reproduksi sanggup berkontribusi terhadap kebutuhan kesehatan reproduksi dan seksualitas di kalangan remaja Kongo.  Studi ini dilakukan di 2 kota yaitu Kinshasa dan Bukavu (April-May 2004).  Remaja yang dilibatkan dalam studi ini yakni berusia 13-16 tahun baik yang masih bersekolah maupun yang tidak bersekolah (N=117).  Studi ini bertujuan untuk membuka saluran terhadap gosip mengenai kondom dan suplai kondom.


Kegiatan yang dilakukan untuk pengumpulan data selama studi ini berlangsung yakni dengan membentuk 11 kelompok terarah (4 di Kinshaha dan 7 di Bukavu).  Wawancara terhadap koordinator agenda pendidikan remaja (1 di Kinshaha dan 1 di Bukavu).


Hasil yang didapat dari studi ini adalah:




  • Banyak remaja tidak menunggu hingga menikah untuk melaksanakan relasi seksual mereka yang pertama dan tidak juga memakai proteksi.

  • Kurangnya perlindungan membawa dampak terhadap remaja perempuan.

  • Pengetahuan remaja mengenai pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan sangat rendah dan terkadang salah.

  • Banyak remaja mewaspadai keefektivan dari kondom dalam mencegah kehamilan.

  • Remaja tidak mengetahui kemana harus mencari kondom gratis.

  • Di Bukavu, abjad ”K” dari penggunaan Kondom telah diubah menjadi ”Percaya Diri”

  • Keputusan untuk tidak menyediakan kondom tertera dalam kebijakan yang dibentuk oleh gereja.

  • Di Bukavu, koordinator agenda menegaskan bahwa ada risiko terhadap sosialisasi kondom alasannya yakni mereka hanya mempromosikan abstinensia dan setia sebagai satu-satunya metode dalam mencegah tertular HIV.


Kesimpulan dari studi ini yakni saluran remaja dan belum dewasa yang berisiko, menyerupai anak jalanan, terhadap pendidikan seksualitas dan gosip mengenai kondom serta ketersediaan suplai kondom harus dilihat dari sudut pandang yang lebih besar, di mana hal ini termasuk dalam kebutuhan kesehatan reproduksi remaja dan hak remaja untuk mendapatkannya.  Dalam konteks di mana sistem kesehatan tidak berjalan dengan baik, rasio fertilitas remaja sangat tinggi dan prevalensi HIV juga meningkat, pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi juga sangat rendah.  Pendidikan seksualitas yang komprehensif, gosip yang akurat mengenai kondom dan ketersediaan suplai kondom yang adekuat yakni hal-hal yang esensial bagi remaja di mana mereka sanggup memiliki pilihan-pilihan yang terkait dengan dilema seksualitasnya.

Comments