Remaja, Dunia Penuh Ekspresi

bengong lantaran anak lelakinya yang menginjak  usia  Remaja, Dunia Penuh EkspresiSeorang ibu terbengong-bengong lantaran anak lelakinya yang menginjak usia 17 tahun ingin mengenakan anting. Pasalnya, ia remaja yang baik-baik saja, dan cenderung disukai oleh teman, guru, maupun orangtuanya sendiri lantaran selalu berperan sesuai harapan.


Anting bagi para orangtua tradisional hanya pantas dikenakan wanita. Itulah sebabnya keinginan si remaja laki-laki itu sulit dimengerti oleh sang ibu. Ketika ditanya alasan keinginannya, si anak hanya mengatakan, “Kan keren!?”


Ibu itu gres sedikit mengerti bagaimana arti kata “keren” ketika suatu ketika mereka menikmati paduan bunyi yang indah, dikomandani seorang konduktor muda, notabene seorang cowok dengan penampilan macho, meski mengenakan anting di sebelah telinganya. Pada ketika itu si anak menyatakan, “Keren ‘kan, Bu?”


Tidak gampang menyelami kehidupan remaja. Apa yang mereka pikir, rasakan, dan lakukan, seringkali berbeda dengan yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh orang cukup umur pada umumnya. Dari soal cara berpakaian, model rambut, dan perhiasan sampai bagaimana mereka membuatkan kebiasaan-kebiasaan berperilaku, biasanya mengundang komentar dari orangtua.



Dunia mereka penuh angan-angan indah. Namun, apa yang indah bagi mereka itu belum tentu sanggup diterima oleh para orangtua.


Banyak orangtua yang dibentuk khawatir lantaran sikap anak remajanya, terutama lantaran mereka tidak lagi “manis” menyerupai ketika masih duduk di dingklik sekolah dasar. Bahkan, banyak orangtua dan guru yang cenderung memperlihatkan label kepada mereka sebagai generasi yang sulit diatur.


Sebagai orangtua, sudah sepatutnya kita mencar ilmu untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh bawah umur kita yang tengah berada dalam masa remaja. Dengan itu keadaan yang menjengkelkan sanggup berubah menyenangkan.


Perkembangan Psiko-Seksual
Kita tahu bahwa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja diawali dengan gejala kematangan seksual. Bagi remaja, perubahan pada aspek biologis ini merupakan pengalaman yang cukup mengejutkan.


Anak perempuan mulai mengalami menstruasi, dan anak laki-laki mulai mengalami mimpi basah. Konsekuensi dari perkembangan hormonal tersebut ialah perasaan-perasaan romantis terhadap lawan jenis.


Perkembangan tersebut merupakan insiden monumental, yakni menciptakan mereka mulai menyadari dirinya bukan lagi sebagai kanak-kanak. Ditambah lagi dengan perkembangan kognisi yang semakin lengkap, bisa berpikir secara teoretis/hipotetis, menciptakan remaja benar-benar mengalami dunia secara baru.


Dengan kemampuan kognisinya itu mereka mulai menilai dunianya secara lebih utuh. Mereka membutuhkan orangtua sebagai daerah bertanya dan mendapat rasa aman. Di sisi lain, mereka juga sanggup menilai orangtuanya secara negatif kalau tidak sesuai dengan citra ideal mereka.


Pada masa ini remaja memasuki masa emansipasi. Mereka mengalami dorongan-dorongan untuk mengekspresikan diri secara orisinal. Mereka mempunyai cita rasa gres yang sangat berbeda dengan ketika kanak-kanak, dan ingin sanggup mengekspresikannya sebagaimana adanya.


Ada kalanya mereka ingin menyerupai orang cukup umur yang sanggup bebas tetapkan segala sesuatu bagi dirinya sendiri. Mereka membutuhkan akreditasi sebagai langsung yang otonom.


Teman Sebaya
Dalam keadaan normal, keluarga merupakan satu-satunya daerah berlindung yang nyaman bagi anak. Namun, dengan berkembangnya dorongan untuk mempunyai otonomi, mereka mulai menengok dunia di luar keluarga, yakni sahabat sebaya.


Begitu pentingnya sahabat sebaya bagi remaja, bahkan ada kalanya menjadi sangat penting melebihi keluarga. Hal ini disebabkan di sana mereka lebih bebas berekspresi, sanggup bahu-membahu mendapat pengalaman perihal dunia, dan sanggup memperkuat identitas dirinya melalui acara bersama.


Contohnya, mereka cenderung sama-sama menolak otoritas yang sewenang-wenang, baik di rumah maupun di sekolah. Mereka sama-sama menyukai keceriaan dan menolak situasi yang menekan. Kesamaan-kesamaan ini memungkinkan mereka untuk saling mendukung, termasuk dalam hal mengekspresikan diri.


Mereka sama-sama ingin mencoba hal-hal baru, tidak puas dengan hal-hal yang tradisional, melepaskan diri dari stereotip-stereotip yang dibangun oleh masyarakat. Model rambut, pakaian, sepatu, menjadi sarana mengekspresikan keinginannya akan orisinalitas.


Tato pada badan tidak lagi diartikan sebagai simbol kebrutalan; gaya punk tidak lagi dimaknai sebagai penampilan anak jalanan; anting tidak harus untuk perempuan dan tidak pula dimaknai sebagai simbul gay, dan seterusnya.


Bagaimanapun, mengikuti kematangan seksual yang terjadi, mereka ingin sanggup membuatkan sikap sesuai dengan tugas jenisnya, sebagai laki-laki atau perempuan secara matang. Di antara sahabat sebaya mereka sanggup mengekspresikan bagaimana sikap yang matang sesuai tuntutan tugas jenisnya.


Dalam kebersamaan itu mereka sanggup saling memperkuat identitas dirinya. Dalam Psikologi Sosial sangat dimaklumi bahwa seseorang cenderung mengelola keanggotaannya dalam suatu kelompok dalam rangka mengelola konsep diri.


Dengan menjadi anggota kelompok, individu akan merasa mempunyai identitas sosial yang pasti. Bagi remaja, identitas sosial sangat penting lantaran mereka masih membutuhkan kepastian siapa dirinya dalam masyarakat semoga merasa berharga.


Secara keseluruhan, sahabat sebaya bagi remaja mempunyai enam fungsi positif (Kelly & Hansen, dalam Dacey & Kenny, 1997): (a) mengendalikan impuls agresif; (b) mendapat santunan sosial dan santunan emosional serta kemandirian; (c) meningkatkan keterampilan sosial, kemampuan bernalar, dan mengekspresikan perasaan secara matang; (d) membuatkan sikap terhadap seksualitas dan sikap sesuai tugas jenis; (e) memperkuat nilai-nilai dan keputusan moral; (f) memperkuat harga diri (self esteem).

Comments