Terapi Sempurna Sesuai Masalah
Bukan tak mungkin, kehamilan yang tak kunjung terjadi selama ini semata-mata disebabkan posisi bercinta yang salah. Frekuensi berintim-intim yang 3-4 kali seminggu juga tak disarankan dan harus dijarangkan menjadi 2-3 kali seminggu biar sperma lebih berkualitas (matang) dan volumenya lebih banyak.
Pada beberapa kasus, terapi memang harus dilakukan dengan tunjangan obat-obatan atau bahkan dilakukan koreksi dengan operasi. Semakin sederhana permasalahannya, semakin sedikit jenis terapi yang perlu dilakukan. Sebaliknya, semakin berat masalahnya, semakin banyak jenis terapi yang ditawarkan. Soal usang terapinya sangat bergantung pada respon masing-masing individu dan pasangannya. Ada yang dalam 3-6 bulan menjalani terapi sudah membuahkan kehamilan. Namun, ada yang lebih dari itu atau tidak berhasil sama sekali. Kasus infertilitas biasanya disiasati dengan cara inseminasi, bayi tabung, hingga adopsi anak.
PERHATIKAN DOKTER
Satu hal yang tak boleh luput dari perhatian ialah pilihlah dokter yang menangani Anda dan pasangan secara tepat. Selain itu, siapkan diri untuk menghadapi kejenuhan, mengingat upaya investigasi dan terapi bisa berlangsung tidak hanya satu kali, melainkan berkali-kali dan menuntut banyak waktu. Solusi untuk memecahkan kebosanan ini hanyalah tekad yang kuat.
Hindari “belanja” dokter alias gonta ganti dokter. Hal ini tidak akan mengatasi kejenuhan yang terjadi. Siapapun dokternya, toh Anda tetap akan menjalani langkah-langkah yang memang perlu dijalani. Malah gonta ganti dokter hanya akan membuang waktu banyak karena investigasi harus diulang.
Lantaran itulah, keterbukaan antarpasien dengan dokter amat dibutuhkan di sini. Sejak awal tanyakan pada dokter investigasi apa saja yang akan dilakukan. Dokter pun harus menjelaskan permasalahan yang dihadapi pasiennya, serta mengatakan target-target yang akan dicapai dengan investigasi maupun terapi yang dilakukannya.
TERAPI BERDASARKAN MASALAH
A.MASALAH HORMON
* Hormon Reproduksi
Terapi hormon dilakukan untuk mengatasi gangguan ketidaksuburan dengan cara penambahan hormon dari luar, bila hormon yang mengatur fungsi reproduksi dalam badan insan mengalami gangguan. Terapi hormon dilakukan pada laki-laki bila spermanya aneh dan pada wanita bila tak ada ovulasi.
Biasanya penambahan hormon dilakukan bila hormon FSH (follicle-stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone) di dalam badan kurang. Pada perempuan, FSH dan LH akan merangsang ovarium atau indung telur hingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel diikuti ovulasi atau keluarnya sel telur. Pada pria, FSH merangsang sel sertoli yang terdapat dalam buah zakar. Sel sertoli inilah yang mengatakan makanan pada bakal sperma supaya sperma berkembang normal. Sementara LH merangsang sel leydig untuk menghasilkan hormon testosterone yang mempunyai kegunaan bagi perkembangan seks sekunder dan mematangkan sperma.
- Terapi hormon pada perempuan.
Diawali dengan tunjangan obat antihormon estrogen atau obat pemicu kesuburan untuk memicu pengeluaran FSH. Obat ini dimakan pada hari ke-3, 4, 5 siklus haid, karena hormon gres meningkat sesudah hari ke-3. Saat inilah hormon FSH dipicu. Cara ini dicoba selama 6 kali siklus. Bila tidak berhasil, dosisnya akan ditingkatkan. Jika 6 bulan belum terbentuk ovulasi, gres diputuskan untuk mengatakan hormon dari luar suntikan pada hari ke-6 dan 10 siklus haid, yaitu berupa suntikan hormon FSH atau campuran FSH dan LH.
- Terapi hormon pada pria.
Hormon diberikan melalui suntikan dan tergantung kebutuhan. Namun, umumnya diberikan kombinasi FSH dan LH. Suntikan hormon pada laki-laki bisa dilakukan kapan saja. Umumnya suntikan diberikan 2 hari sekali, tergantung konsentrasi kerja hormon yang diberikan. Selanjutnya 1-1,5 bulan akan dievaluasi, apakah ada perkembangan atau tidak. Bila sesudah 3 bulan masih minimal juga, akan diteruskan untuk satu siklus lagi ( 1 siklus pembentukan sperma ialah 3 bulan ). Untuk mengetahui sudah manis atau tidak, bisa melalui investigasi sperma atau ditambah investigasi hormon. Pemeriksaan sperma dilakukan 2 kali selang 2 ahad untuk menyiapkan buah zakar biar berproduksi kembali. Syarat investigasi sperma, tak boleh berafiliasi intim selama minimal 3 hari dan maksimal 7 hari.
* Hormon Tiroid
Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid sanggup menghambat proses kehamilan. Kekurangan hormon tiroid pada wanita sanggup mengganggu metabolisme badan sehingga mengakibatkan sel telur tidak matang. Akibatnya pembuahan tidak pernah berhasil. Untuk menormalkan produksi hormon tiroid, dokter biasanya mengatakan pil, tablet atau suntikan hormon tiroid. Tujuannya untuk membantu badan pasien mendapat jumlah hormon tiroid yang diperlukan. Kemungkinan pasien akan selamanya tergantung pada pil tiroid ini untuk menstabilkan produksi hormon tiroid.
B. MASALAH FISIK
* Sumbatan Vagina
Ada dua jenis sumbatan yang kerap terjadi yakni sumbatan anatomic dan vaginismus. Untuk sumbatan anatomic karena bawaan, sedangkan vaginismus karena pengerutan liang vagina akhir faktor psikologis. Selain itu, sumbatan pada vagina juga sanggup disebabkan oleh adanya peradangan. Peradangan ini sanggup muncul karena kuman yang menjadikan kadar keasaman pada liang vagina terlalu berlebihan, sehingga sperma sanggup gagal memasuki rahim. Penyakit yang sanggup mengakibatkan kuman pada liang vagina ini antara lain penyakit gonore, sifilis, trikomoniasis, kandidiasis, amubiasis atau kista vagina.
Sumbatan pada vagina diatasi dengan pengobatan. Bila pengobatan tidak memungkinkan akan dilakukan pembedahan biar vagina sanggup berfungsi normal. Terakhir, bila cara ini tidak sanggup membantu maka biar mendapat kehamilan sanggup dilakukan aktivitas inseminasi atau bayi tabung.
* Gangguan pada Leher, Mulut, dan Bentuk Mulut Rahim
Penyebab gangguan pada lisan rahim sanggup brupa (1) sumbatan pada leher rahim, (2) lender pada lisan rahim yang tidak normal sehingga lender menjadi terlalu kental atau cair yang menjadikan sprema terhambat menuju rahim, atau (3) bentuk lisan rahim yang tidak normal sehingga sanggup mengganggu penyampaian sperma ke rahim.
Untuk mengatasi permasalahan di lisan rahim ini sanggup dilakukan pengobatan bila berkaitan dengan kondisi lender yang bertugas mengantarkan sperma ke rahim. Tapi, jikalau berkaitan dengan bentuk lisan rahim yang memang sudah tidak tepat maka harus dilakukan pembedahan biar lisan rahim sanggup berfungsi normal sebagai jalur sperma menuju rahim. Bila cara ini tidak sanggup mengatasi problem maka harus dilakukan inseminasi atau bayi tabung.
* Gangguan pada Rahim
Masalah lain yang sanggup mengganggu transportasi sperma menuju rahim ialah kelainan rongga rahim yang disebabkan sinekia, mioma atau polip, peradangan endometrium, dan gangguan kontraksi uterus. Sperma mustahil melaksanakan migrasi karena gerakannya sendiri. Gerakan sperma dibantu oleh kontraksi yang terjadi antara vagina dan uterus. Kontraksi ini memegang peranan penting dalam transportasi sperma ke dalam rahim hingga ke kanal telur. Prostaglandin (senyawa asam) dalam cairan sperma sanggup menciptakan rahim berkontraksi secara ritmik. Kurangnya prostaglandin dalam sperma akan mempengaruhi perjalanan sperma.
Kelainan-kelainan tersebut sanggup mengganggu implantasi, pertumbuhan intrauterin dan nutrisi serta oksigenisasi janin. Untuk mengatasi ini diharapkan bermacam-macam cara, mulai pengobatan hingga pembedahan.
Permasalahan lain yang mungkin terjadi pada rahim ialah kelainan bawaan semenjak lahir berupa kelainan bentuk rahim. Kelainan bawaan ini ibarat tidak mempunyai rahim, rahimnya kecil, terdapat dua rahim, rahim berbentuk hati, rahim bersekat dan rahim bertanduk. Kecuali kelainan tidak mempunyai rahim, semua kelainan itu sanggup diusahakan mempunyai anak. Tentunya dengan pengobatan yang berbeda menurut kelainan yang dimiliki. Untuk rahim yang kecil sanggup dilakukan terapi hormonal biar rahimnya sanggup membesar hingga ukuran normal. Sedangkan untuk yang terdapat dua rahim, rahim bersekat, rahim bertanduk dan rahim berbentuk hati, harus dilakukan operasi untuk mengoreksi bentuk rahim.
* Masalah di Saluran Telur
Kelainan telur yang dimaksud ialah hidrosalping, yaitu tuba yang membesar seluruhnya atau tuba yang menebal. Penyebab kerusakan di dinding tuba ialah jerawat atau adanya endometriosis. Selain hidrosalping, terdapat juga tuba yang pendek, yang disebabkan tekukan pada beberapa kawasan dan perlekatan tuba. Perlekatan sanggup mengganggu pergerakan fimbriae dan menahan ovarium.
Kelainan pada kanal telur sanggup diatasi dengan operasi untuk memperbaiki dan mengembalikan anatomi tuba dan indung telur ibarat semula. Sedangkan endometriosis pada kanal telur sanggup diusahakan kesembuhannya melalui pengobatan berupa obat-obatan hormonal. Bila sudah tidak memungkinkan dengan pengobatan, perlu dilakukan pembedahan. Bisa dengan bedah mikro, bedah konvensional, atau laparoskopi.
Masalah tidak terjadinya kehamilan bisa juga disebabkan gangguan pada indung telur, ibarat adanya tumor atau kista, yang tersering berupa kista endometriosis. Untuk mengatasi gangguan kista endometriosis sanggup dengan pengobatan atau pembedahan untuk mengangkat tumor tersebut.
C. ALERGI SPERMA
Alergi sperma terjadi bila badan istri membentuk antibodi terhadap sperma suaminya. Semua wanita akan membentuk antibodi ini, tapi tidak semua wanita akan membentuk sistem imun hingga sperma bisa mencapai sel telur. Untuk mengatasinya sanggup dilakukan dengan mengurangi kuantitas hubungan atau memakai alat bantu kondom. Dengan demikian, vagina tak terpapar sperma setiap kali melaksanakan hubungan intim, sehingga rangsangan untuk terbentuknya andibodi sanggup dihindari. Terapi ini minimal dilakukan 6 bulan. Melalui terapi ini diharapkan ada penurunan antibodi, sehingga ada kemungkinan sperma yang berhasil lolos dan memungkinkan terjadinya kehamilan.
Bila cara ini tidak berhasil sanggup dilakukan terapi steroid, yaitu memakai menekan antibodi dengan obat-obatan atau suntikan tertentu. Terakhir, melalui inseminasi atau bayi tabung.
D. PENGENTALAN DARAH
Dalam keadaan normal, antibodi bersama-sama merupakan kumpulan protein yang dibuat oleh sistem kekebalan badan untuk memerangi substansi yang dianggap asing oleh badan (di antaranya bakteri, virus). Pada penderita pengentalan darah atau ACA (anticardiolipin), tubuhnya malah mengeluarkan antibodi yang dipakai untuk menyerang anticardiolipin yang dianggap musuh, meski bersama-sama itu merupakan belahan dari membran. Kemunculan antibodi anticardiolipin inilah yang menciptakan darah individu jadi lebih kental. Antibodi ACA juga mendorong terjadinya trombosis atau pembekuan darah dalam pembuluh darah.
Bekuan darah di plasenta akan mengganggu pasokan zat gizi dan oksigen bagi janin. Janin jadi tidak bisa berkembang atau meninggal dalam kandungan pada usia kehamilan 3-4 bulan.
Bila antibodi anticardiolipin masih dalam batas aman, pengobatan cukup dengan tablet sejenis aspirin (yang kemampuannya mempertahankan bayi hanya 40%). Pada investigasi berikutnya, perlu dilakukan investigasi laboratorium. Bila kadar antibodi anticardiolipin tetap atau meningkat, tunjangan obat akan dibarengi dengan suntikan heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap hari. Obat yang disuntikkan bukan bertujuan menurunkan antibodi anticardiolipin, melainkan menjaga biar antibodi tak mengakibatkan trombosis alias pengentalan darah, sehingga janin sanggup memperoleh makanan yang mencukupi untuk pertumbuhannya.
PEMBUAHAN BUATAN
A. INSEMINASI
Inseminasi intrauterin ialah memasukkan sperma ke dalam dinding rahim dengan memakai kateter khusus. Pelaksanaan inseminasi dilakukan bila pengobatan atau terapi tidak membuahkan hasil. Pelaksanaan inseminasi umumnya tidak sekali dua kali, karena kemungkinan keberhasilan gres meningkat pada pelaksanaan yang ke-3 hingga ke-7 dalam waktu 6-7 bulan.
Pelaksanaan inseminasi dilakukan sebelum hingga pada anjuran ikut aktivitas bayi tabung. Bila terbukti tidak berhasil, gres dokter mengatakan aktivitas bayi tabung.
Langkah awalnya dengan menyiapkan sperma yang dikeluarkan melalui masturbasi. Dari jumlah sperma yang telah disiapkan dipilih yang kualitasnya paling baik. Sebelum sel sperma dimasukkan, sang istri sudah diberi obat biar sel telur yang dihasilkan baik. Selanjutnya para andal memasukkan sel sperma yang telah disiapkan ke dinding rahim dengan alat tertentu. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan ini bergantung pada kesuburan istri maupun suami.
B. BAYI TABUNG
Program bayi tabung ditawarkan pada pasangan yang mengalami kebuntuan pada kedua kanal sel telur, jumlah sperma sangat sedikit, mengalami endometriosis, folikel tidak pecah, dan banyak sekali pengobatan atau terapi yang dilakukan tidak kunjung membuahkan hasil. Program bayi tabung dilakukan dengan memasukkan sel telur yang telah dibuahi oleh sperma ke dalam rahim.
Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Pertama, mengatakan obat pemicu ovulasi pada istri. Proses pematangan sel telur dipantau setiap hari melalui investigasi darah istri dan investigasi ultrasonografi. Selanjutnya, dikeluarkan beberapa sel telur, kemudian sel telur tersebut dibuahi dengan sel sperma suaminya yang telah diproses sebelumnya dan dipilih yang terbaik. Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan di dalam tabung petri kemudian dibiakkan di dalam lemari pengeram. Pemantauan dilakukan 18-20 jam kemudian dan keesokan harinya diharapkan sudah terjadi pembuahan sel.
Selanjutnya, embrio yang berada dalam tingkat pembelahan sel ini dimasukkan ke dalam rahim istri. Pada periode ini kesudahannya dinantikan hingga kurang lebih 14 hari. Jika tidak terjadi menstruasi, akan dilakukan investigasi air kemih untuk memastikan terjadinya kehamilan. Seminggu kemudian kehamilan akan dipastikan dengan investigasi ultrasonografi.
Comments
Post a Comment